Senin, 28 Mei 2012

Pemimpin dalam Tiga Peran

Oleh: Achmad Tri Budiawan dan Wima Adang Nugraha (Calon Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa)


Koordinator
Peran paling sederhana dari seorang pemimpin yang saya tahu adalah mengoordinasi. Dia yang memimpin adalah dia yang mengetahui kemana organisasi (atau kelompok) akan mengarah, dan memahami cara paling efektif untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
Sebuah kisah dari para pelari maraton akan menjadi pelajaran.
            Pada musim semi yang sejuk di pegunungan Nevada, sekelompok orang saling mengejar dalam sebuah perlombaan maraton jarak jauh. Mereka terus berlari tanpa melihat rambu-rambu jalan. Karena memang sebagian besar dari mereka bukanlah penduduk setempat yang memahami rute maraton tersebut dan memang rambu-rambu jalan bukanlah pemandangan yang menarik untuk dinikmati. Satu-satunya yang mereka lakukan hanyalah mengejar pesaing mereka yang ada di depannya. Satu terlewati, lalu target selanjutnya adalah melewati yang satu di depannya lagi. Demikian seterusnya. Hingga perjalanan yang mereka lalui sudah semakin jauh, terlalu jauh bahkan bagi mereka yang terbiasa mengikuti perlombaan serupa.
            Hingga akhirnya ada salah satu dari mereka yang menyadari adanya kesalahan dalam rute yang mereka tempuh.Dan penyebabnya sederhana. Bahwa mereka sepanjang lari bukannya mengikuti rambu-rambu, malah mengikuti orang yang berlari paling depan, yang ketika ditanya, juga tak mengetahui dimana letak garis finish.

Think, Act, Change

Oleh: Satria Arga Nugraha dan Ika Khairunnisa (Calon Ketua dan Wakil Ketua Himas)


Something doesn’t kill you make you stronger. Kalimat itu mungkin sudah sering kita dengar, apalagi untuk teman-teman akuntansi 2010, mengingatkan akan sesuatu di UTS ini , kan? Hehe.
Setelah UTS kita diakhiri dengan kalimat itu, sesungguhnya apa makna yang terkandung dalam kalimat tersebut? Jangan pernah menyerah? Terus bersabar saat mendapat sebuah kesulitan? Masalah yang datang akan membuat kita lebih kuat? Ya, pasti akan ada banyak penafsiran tentang makna dari kalimat tersebut. Tidak ada yang salah saat kita berusaha menafsirkannya, tergantung dari sudut pandang mana kita melihat untuk memaknai kalimat tersebut. Namun, pada intinya dalam kalimat tersebut terdapat tantangan terhadap diri kita untuk menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Nah, bisakah kita?
Mari kita ubah fokus kita menuju ke struktur kalimat tersebut. Something – does – not – kill – you – make – you – stronger . 8 kata yang membentuk satu buah kalimat. Disana kita bisa kembali lihat, 8 kata yang membentuk sebuah kalimat dapat memberikan banyak makna berbeda.
Apa maksudnya? Mungkin teman-teman akan bertanya. Disini yang akan saya tunjukkan adalah hanya dengan sedikit hal yang kita miliki, kita akan mampu membuat banyak hal yang berbeda. Dari 8 kata yang saya miliki, saya rangkai menjadi sebuah kalimat, yang pada akhirnya kalimat tersebut mempunyai banyak makna yang positif dan mungkin akan menginspirasi.

Siapkah kita menjadi seorang pemimpin?

Oleh: Faisal Rachman dan Seftianty Saepul (Calon Ketua dan Wakil Ketua Himas)


Tiap manusia ialah seorang pemimpin dan tiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya. Sepenggal kalimat yang sering kita dengar di berbagai kondisi jika kita membahas soal pemimpin. Dia lah pengemban amanah, karena memimpin itu buka soal kekuasaan tapi soal pengembanan amanah yang baik juga. Harus ada seorang yang mengambil amanah tersebut. Pemimpin ialah pucuk tertinggi dari sebuah entitas, entah itu organisasi, rumah tangga, perusahaan, pekerjaan, dll. Dia lah pula lah yang bertanggung jawab atas segala pengambilan keputusan yang dilakukan oleh entitas tersebut. Seorang pemimpin yang baik ialah seorang pendengar yang sangat baik juga. Selain itu ada 3 kriteria yang akan kami angkat dalam essay ini untuk menjadi seorang pemimpin yang adil dan ideal, yaitu Cerdas Spiritual, Cerdas Emosional, dan Cerdas Intelektual.
Seorang pemimpin dalam sebuah organisasi  ialah pengambil keputusan tertinggi dan juga panutan bagi bawahannya. Oleh karena itu seorang pemimpin harus menularkan sesuatu yang mengarah pada hal positif di tiap tindakannya.  Tidak ada pemimpin manapun di dunia ini yang bisa menyelesaikan semua masalahnya sendiri bahkan dengansekumpulan tim homo sapiens terkuat yang dia bentuk, kenapa? karena banyak hal di dunia ini yang jauh sekali dari nalar kita sebagai manusia. Banyak masalah yang sebenarnya tidak bisa dipecahkan sendiri oleh kekuatan manusia, sekuat apapun dia. Manusia PASTI butuh Tuhan, untuk bersandar, mengadu, dan meminta. Karena Dia-lah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Hanya pemimpin yang angkuh yang tidak percaya pada Tuhan. Sejarah membuktikan dengan adanya Fir’aun pada zaman Nabi Musa As. Manusia adalah makhluk lemah, seorang pemimpin yang adil dan ideal pasti mengetahui dan menyadari hal tersebut,tidak ada kesempurnaan dalam dirinya semuanya hanyalah amanah dan titipan yang Allah berikan, lakukan sebaiknya dan bermanfaatlah kepada orang banyak karena kita lah khalifah yang diutus Allah di muka bumi ini. Maka dari itu, poin paling penting dalam kriteria menentukan pemimpin adalah harus cerdas secara Spiritual. Karena agama adalah norma paling penting dalam mengatur tindak-tanduk kita di dunia ini. Pemimpin yang ideal pasti berpegangan pada agama, tapi orang yang berpegangan pada agama belum tentu pemimpin yang ideal, kenapa??

Kepala Ayam atau Ekor Harimau

Oleh: Rahmad Prasetyo dan Arrozaq Nugraha Putra (Calon Ketua dan Wakil Ketua IMP)


“Ada satu kerinduan – nyaris sedalam dan sekental hasrat untuk makan atau untuk tidur. Yaitu hasrat untuk menjadi orang luar biasa. Hasrat untuk menjadi orang penting” – Dale Carnegie
Di sebuah film mandarin yang pernah saya tonton, pernah ada pernyataan dari salah seorang actor yang sangat saya ingat kata – katanya. “Lebih baik aku menjadi kepala Ayam ketimbang menjadi ekor harimau” Ujarnya. Ada suatu makna yang saya rasa mewakili keinginan sebagian besar orang. Yakni kehausan akan aktualisasi diri. Dan Abraham maslow, sang Teoritikus dalam teori – teori kepribadian pun menyepakati hal serupa. Aktualitas.
Apa hal mendasar yang menjadi pembeda antara kepala ayam dan ekor harimau yang dimaksud dalam kalimat itu? Apakah kalimat itu hanya mewakili perasaan si lakon dalam film yang lebih memilih menjadi pemimpin meskipun dalam kelompok yang kecil ketimbang ada dalam kelompok yang besar namun hanya menjadi pesuruh? Sepenting itukah posisi diri kita sebagai pemimpin? Apakah menjadi pemimpin tampak lebih ‘Aktual’ ketimbang menjadi bawahan?
Tak perlu bersusah – susah dengan teori – teori rumit. Cukup liat sedikit atau banyak relita di lapangan, maka jawaban dari pertanyaan terakhir pada paragraph di atas adalah ‘Iya’. Bahwa nyatanya, pemimpin seringkali terlihat lebih eksis ketimbang bawahan. Meskipun kontribusi bawahan punya peran yang sama besarnya dengan atasan, tapi tetap saja atasan yang akan diaktualisasikan. Contohlah Kota Solo dan Mobil Esemka. Saat mobil itu mulai banyak diberitakan di media massa, nama siapa yang akhirnya menjadi tenar? apakah nama anak – anak SMK yang merangkai mobil tersebut, ataukah nama Bupatinya yang sekarang maju ke DKI 1? Jawabannya, jelas. Orang – orang justru lebih mengenal Jokowi dalam ‘insiden’ mobil Esemka itu. Kendati saya pun tak mengerti di bagian yang mana Jokowi punya peran. Untungnya, Pak Kiat sudah menyelamatkan ketenarannya lebih dulu dengan menamai mobil Esemka itu dengan namanya. Nah, di sini mestinya timbul pertanyaan akan makna aktualisasi dalam kepemimpinan. Apakah Eksistensi atau kontribusi?

KEPEMIMPINAN

Oleh: Hwang Ie Raharja dan Dimas Prihandana (Calon Ketua dan Wakil Ketua IMP)

Kepemimpinan adalah suatu hal yang mudah diucapkan namun sulit diaplikasikan. Kepemimpinan adalah factor kunci berhasil atau tidaknya suatu organisasi ataupun bentuk kerjasama lainnya. Kepemimpinan juga yang menjadi poin kunci solid atau tidaknya sebuah tim. Banyak hal yang memengaruhi baik atau tidaknya kepemimpinan seseorang. Pengalaman , sikap , latar belakang , dan kemampuan seseorang menguasai keadaan menjadi factor-faktor yang memengaruhi kepemimpinan seseorang.
Kepemimpinan sendiri memiliki berberapa tipe, tipe yang otoriter seperti Presiden kita yang dahulu Bapak Presiden Soeharto lalu juga ada tipe kepemimpinan yang kharismatis seperti founding father Negara kita Bapak Presiden Soekarno. Dan ada juga tipe kepemimpinan yang demokratis seperti yang sudah banyak diterapkan pemimpin-pemimpin saat ini. Seiring dengan berjalannya waktu , orang-orang menyadari bahwa pemimpin yang demokratis itu lebih disenangi dan memberi lebih banyak manfaat dibanding tipe kepemimpinan lain.
Seorang pemimpin yang demokratis selalu mendengarkan saran dan masukan bahkan kritik dari orang-orang sekitarnya baik itu lawan maupun kawan. Pemimpin yang demokratis akan selalu dihadapkan pada banyak pilihan karena ia akan mendengarkan banyak saran dari orang-orang, dalam hal ini seorang pemimpin yang demokratis tentu juga harus memiliki kecakapan dalam memutuskan pilihan. Untuk masalah ini factor pengalaman dan pengetahuan akan berperan penting dalam bagaimana seorang pemimpin memutuskan pilihan-pilihan mana yang harus dia ambil.